Petani semangka Dan Blewah Di Lamongan Gagal Panen

Wfgaz.com – Sebuah desa yang berada di Lamongan terkenal sebagai penghasil buah semangka dan blewah yang sangat melimpah. Namun pada musim panen tahun ini kondisi tidak memihak kepada para petani semangka dan blewah yang ada di Lamongan.

Pasalnya, tanaman yang pada bulan ini siap panen rusak terserang oleh kutu yang lumayan parah. Akibat dari serangan kutu pada hampir seluruh lahan petani harus rela untuk gagal panen.

Desa yang bernama Desa Latukan dan berada di Kecamatan Karanggeneng. Padahal petani sudah mengharapkan hasil panen tahun ini akan berlimpah dari tahun sebelumnya. Pasalnya, serangan hama kutu kebul menyerang semangka dan blewah hingga membuat daun buah-buah tersebut rontok dan tidak berbuah.

Kepala Desa Latukan, Jiyono membenarkan saat ini petani di desanya terancam gagal panen. “Virus kutu kebul ini merupakan virus yang tidak bisa diobati, karena kalau dipupuk pun tanamannya malah tambah loyo,” kata Kades Jiyono di lahan warga, Selasa (12/9/2017).

Jiyono menuturkan, berdasarkan laporan yang ia terima, petani semangka dan blewah di desanya tahun ini gagal total. Kerugian petani hampir miliaran rupiah. “Karena rata-rata per hektarnya biasanya petani bisa meraup rezeki Rp 15-Rp 20 juta, saat ini tidak ada sama sekali,” aku Jiyono seraya menuturkan saat ini ekonomi warganya menurun karena gagal panen.

Dia menambahkan blewah dan semangka yang terserang hama kutu kebul ini rata-rata berusia 1 bulan. Meski ada yang mampu bertahan, namun perkembangannya tidak bisa secepat seperti biasanya.

Jika biasanya usia 40 hari hingga 2 bulan buah semangka dan garbis sudah besar-besar, namun kini pertumbuhannya lambat. “Ciri buah yang terkena kutu kebul itu biasanya akan keriting sebelum akhirnya menguning dan rontok,” terang Jiyono.

Sementara, salah seorang petani blewah asal Desa Latukan, Suli mengaku akibat gagal panen dirimya mengalami kerugian antara Rp 5 juta – Rp 7 juta. Biaya sebesar itu, menurut Suli, bisa digunakan untuk membeli bibit tanaman, pupuk dan obat pertanian. “Saat ini memang belum ada yang panen,” katanya.

Untuk diketahui, luas tanah pertanian di Desa Latukan sekitar 340 hektar. Hampir 300 hektar di antaranya ditanami blewah dan sisanya 40 hektar adalah semangka. “Tahun ini memang kebanyakan petani menanam garbis atau blewah,” aku Jiyono.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *